MI instan telah menjadi salah satu makanan favorit warga dunia, termasuk di Indonesia. Digemari oleh berbagai kalangan mulai anak hingga lanjut usia , karena rasanya lezat, praktis, mengenyangkan, dan murah.
Mi pada umumnya dibuat dari tepung terigu. Di samping dibuat dari tepung terigu, mi juga dapat dibuat dari tepung beras yang disebut bihun, dan bila
dibuat dari tepung tapioka disebut sohun.
Kedua produk tersebut berukuran kecil, sedangkan kwe-thiaw adalah mi yang dibuat dari tepung beras dengan ukuran lebar. Di samping mi yang terbuat dari tepung terigu, tepung beras dan tepung tapioka, ada jenis mi yang terbuat dari pati kacang hijau, yang disebut tung fung, dimana di Jepang disebut haru sane, sedang di negara Barat disebut mungbean atau winter noodles.
Berdasarkan kadar airya serta tahap pengolahannya, mi yang terbuat dari tepung terigu dapat dibagi menjadi 5 golongan, yaitu (1) mi mentah/segar, yang dibuat langsung dari proses pemotongan lembaran adonan dengan kadar air 35 %; (2) mi basah, adalah mi mentah, yang sebelum dipasarkan mengalami pengrebusan dalam air mendidih lebih dahulu, dengan kadar air 52 %;(3) mi kering, adalah mi mentah yang langsung dikeringkan dengan kadar air 10 %; (4) mi goreng, adalah mi mentah, yang sebelum dipasarkan lebih dahulu digoreng; dan (5) mi instan, adalah mi siap hidang.
Di Jepang produk ini disebut sokusekimen, adalah mi mentah yang telah mengalami pengukusan dan dikeringkan sehingga menjadi mi instan kering atau digoreng sehingga menjadi mi instan goreng. Jenis itu bisa dipersiapkan untuk dikonsumsi hanya dengan menambahkan air panas dan bumbu.
Bekal Perang
Mi kali pertama kali dibuat dan berkembang di China, hingga kini masih dikenal sebagai oriental noodle. Teknologi pembuatan mi disebarkan oleh Marcopolo ke Italia, hingga ke seluruh daratan Eropa.
Mi instan dibuat di Jepang pada masa Perang Dunia II oleh Momofuku Ando. Waktu itu tujuan pembuatan mi instan untuk memenuhi logistik perang. Syarat ransum perang adalah sesuatu yang praktis, tahan lama disimpan, dan mudah disiapkan.
Pada tahun 1958, Momofuku Ando mendirikan perusahaan Nissin dan memproduksi mi instan pertama di dunia, yaitu Chikin Ramen (ramen adalah istilah mi dalam bahasa Jepang) rasa ayam.
Pada 1971 Nissin memperkenalkan Cup Noodle, yaitu produk mi instan dalam gelas/cup yang terbuat dari styrofoam tahan air yang bisa dipakai untuk memasak mi tersebut hanya dengan menuang air panas saja.
Penemuan berikutnya termasuk menambahkan sayuran kering ke gelas, melengkapi hidangan mi tersebut. Menurut survei Jepang pada tahun 2000, mi instan adalah ciptaan terbaik Jepang abad ke-20, (karaoke di urutan kedua dan CD hanya di urutan ketiga). Hingga tahun 2002, setidaknya ada 55 juta porsi mi instan dikonsumsi setiap tahunnya di seluruh dunia.
Mi instan dan Kesehatan
Ada anggapan bahwa mi instan termasuk junk food atau makanan yang tidak menyehatkan. Berdasarkan kandungan gizinya dianggap dapat menggantikan nasi karena kandungan karbohidrat tinggi.
Umumnya hanya sedikit mengandung protein, vitamin, mineral dan serat makanan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai makanan penuh (wholesome food) karena belum mencukupi kebutuhan gizi yang seimbang bagi tubuh. Fungsi pemenuhan kebutuhan gizi mi instan hanya dapat diperoleh jika ada penambahan sumber protein dan sayuran. Contoh sumber proteinnya dapat berupa telur, daging, ikan atau udang.
Jenis sayuran yang dapat ditambahkan adalah wortel, sawi, tomat, kol, atau taoge. Satu takaran saji mi instan yang berjumlah 70 gram mampu menyumbangkan energi sebesar 320 kalori, yaitu sekitar 16 % dari total kebutuhan energi harian (2.000 kalori). Energi yang disumbangkan dari lemak berjumlah sekitar 110 ñ 140 Kalori.
Hal lain yang terkadang kurang disadari adalah kandungan lemak yang tinggi, terutama lemak jenuh. Kandungan lemak yang tinggi ini perlu diwaspadai bagi penderita kegemukan (obesitas) atau orang yang sedang dalam program penurunan berat badan.
Seperti halnya produk makanan kemasan lainnya, mi instan juga menggunakan peran bahan tambahan makanan (BTM) atau food additives dalam proses pembuatannya.
BTM pada mi instan pada umumnya adalah Natrium polifosfat sebagai pengemulsi, penstabil dan pengental; Natrium karbonat dan Kalium karbonat sebagai pengatur keasaman; dan tartrazine sebagai pewarna.
Semuanya adalah BTM kimiawi khusus untuk industri pangan. BTM pada bumbu mi instan umumnya adalah monosodium glutamat (MSG/vetsin/penyedap rasa) dan pemberi rasa.
Kandungan natrium dalam sebungkus mi instan cukup tinggi. Natrium ini berasal dari garam (NaCl), bahan pengemulsi, penstabil, pengental dan pengatur keasaman serta MSG.
Konsumsi natrium yang berlebihan memiliki efek yang kurang menguntungkan bagi penderita penyakit maag dan penderita hipertensi.
Bagi penderita maag, natrium akan menetralkan lambung, sehingga lambung akan mensekresi asam yang lebih banyak untuk mencerna makanan.
Keadaan asam lambung tinggi akan berakibat pada pengikisan dinding lambung yang menyebabkan rasa perih.
Bagi penderita hipertensi, natrium akan makin meningkatkan tekanan darah karena ketidakseimbangan antara natrium dan kalium (Na-K) di dalam darah dan jaringan.
Oleh karena kandungan lemak dan natriumnya yang tinggi serta menggunakan banyak BTM, dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi mi instan setiap hari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar