Pengertian Sabo ( bahasa Jepang)
Sa = pasir ( sand )
bo = pengendalian ( prevenyion )
Teknosabo + Teknik untuk mengendalikan gerakan masa debris agar tidak membahayakan
Teknologi Sabo dimaksudkan untuk mengendalikan masa debris yang membahayakan guna menciptakan rasa aman terhadap jiwa manusia, harta benda dan infrastruktu lain, mengurangi sedimen yang masuk kedalam suatu waduk, melindungi bangunan irigasi dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain, sebagai bangunan multiguna.
Teknologi Sabo dirintis sejak jaman Belanda dengan membuat bangunan Sabo berupa kantong lahar di K.Woro (Woro Driehoek ) sekitar tahun 1930 an akibat letusan besar gunung Merapi pada tahun 1931. Pada awal perkembangannya, dibuat tanggul didaerah hilir guna melindungi jiwa penduduk dan hatanya dari dari bencana lahar hujan. Pada saat itu masih belum terpikirkan pengendalian sedimen di daerah hilir, material sedimen hasil erosi di hulu seluruhnya nyaris terakumulasi di hilir.
Hampir setiap tahun, dasar sungai terus-menerus naik, yang diikuti pula dengan peninggian tanggul guna mencegah limpasan. Dasar sungai menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan tanah disekitarnya (ceiling river). Apabila terjadi kegagakan tanggul, muka air berikut sedimen yang terakumulasi dengan segera mengalir dan menimbun daerah yang lebih rendah disekitarnya. Berturut-turut Indonesia mengalami bencana letusan gunungapi yang terjadi di G.Agung Bali pada tahun 1963, G,Kelut Kediri (1966), G,Merapi Yogyakarta (1969), G.Semeru Lomajang (1977) dan H.Galunggung Tasikmalaya (1982) dan lain-lain. Letusan gunungapi tersebut mengakibatkan ratusan penduduk meninggal, sawah desa, bangunan sarana dan prasarana rusak berat.
Pada tahun 1970 pemerintah Indonesia menjalin kerjasama dengan pemerintah Jepang dalam upaya menanggulangi bencana alam akibat gunungapi.Sejak saat itu dimulailah pembangunan fasilitar Sabo dibagian hulu sungai dengan tujuan utama mengendalikan sedimen yang mengalir ke daerah hilir. Hasil dari kerjasama tersebut diantaranya : kedatangan berbagai tenaga ahli Jepang ke Indonesia, bantuan peralatan, pendidikan tenaga ahli Indonesia ke Jepang, penyelenggaraan pendidikan teknisi di Indonesia. Selain itu telah dibangun berbagai fasilitas Sabo yang tersebar di kawasan gunungapi di Indonesia terutama di pulau Jawa. Hingga saat ini kerjasama tersebut masih tetap terselenggara mengingat pengembangan teknologi Sabo senantiasa diperlukan guna meminimalkan kerugian yang timbul akibat bencana aliran sedimen.
Minggu, 31 Oktober 2010
Teknologi Sabo
KATA "Sabo" bagi sebagian masyarakat, mungkin masih asing. Padahal, Sabo merupakan sebuah teknologi bangunan yang sangat berguna dan terkait erat dengan masalah konservasi sumber daya air akibat dari bencana alam sedimen yang sudah diterapkan lama.Berkaitan itu, Universitas Semarang (USM) bekerja sama dengan Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SKNVT) Penanganan Sabo Yogyakarta dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (PSDA), mengadakan seminar Deseminasi Teknologi Sabo, di Kampus II USM Jl Soekarno-Hatta, Rabu (31/5).
Pembicara utama seminar itu, Kepala Dinas PSDA Jateng Ir Nidhom Azhari Dipl HE, Yayasan Air Adhi Eka, Ir Djoko Legowo Dipl HE, dan Sabo Technical Centre Yogyakarta, Hariyono Utomo ST. Sebagai pembicara kunci Dirjen SDA, Ir Siswoko Dipl HE.
Hariyono mengungkapkan, Indonesia merupakan negara rawan bencana. Hal itu karena posisi geografis negeri ini terletak di antara dua benua Asia dan Australia serta di antara Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik.
Selain itu, secara geologis Indonesia terletak di antara pertemuan tiga lempeng tektonik dan jalur gunung api lingkar Pasifik dan lintas Asia. Selain itu, banyak dijumpai daerah patahan aktif yang merupakan daerah hancur.
"Di Indonesia, terdapat 129 gunung api aktif atau 17% dari gunung api aktif di dunia. Dengan demikian, Indonesia dapat dikatakan sebagai kawasan berzona patahan dan bergunung api aktif," katanya.
Ditambahkannya, berawal dari kejadian bencana alam letusan gunung api berturut-turut, yaitu Gunung Agung di Bali pada 1963, Gunung Kelud di Kediri, Jatim (1969), dan Gunung Merapi di Jateng (1969) yang mengakibatkan banyak korban jiwa.
Pengertian harfiah kata "Sabo" berasal dari bahasa Jepang. Yaitu asal kata "sa" berarti pasir, dan "bo" yang artinya pengendalian. Pengertian secara luas, sabo adalah sistem pengendalian erosi, sedimen, lahar hujan, dan penanggulangan tanah longsor.
Fungsi Sabo antara lain, menangkap aliran debris atau lahar sehingga debit aliran menjadi berkurang.
Selain itu, mengarahkan dan memperlambat kecepatan aliran, tempat pengendapan, pengarah aliran untuk mencegah penyebaran, dan membatasi terjadinya aliran debris atau lahar.
Ada berbagai fasilitas bangunan Sabo yang dapat diterapkan untuk pengendalian sedimen. Yaitu, mulai sumber sedimen (hulu), pengaliran (tengah), sampai pengendapan (hilir) yakni Sabo dam, tanggul, kantong pasir, saluran pengatur kanal, tanggul terbuka, dan perlindungan tebing.
Nidhom Azhari berpendapat, sabo bukan hanya digunakan untuk penanggulangan akibat gunung berapi.
Namun juga digunakan sebagai bangunan di sekitar sungai dan pantai untuk menahan longsoran.
Pembicara utama seminar itu, Kepala Dinas PSDA Jateng Ir Nidhom Azhari Dipl HE, Yayasan Air Adhi Eka, Ir Djoko Legowo Dipl HE, dan Sabo Technical Centre Yogyakarta, Hariyono Utomo ST. Sebagai pembicara kunci Dirjen SDA, Ir Siswoko Dipl HE.
Hariyono mengungkapkan, Indonesia merupakan negara rawan bencana. Hal itu karena posisi geografis negeri ini terletak di antara dua benua Asia dan Australia serta di antara Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik.
Selain itu, secara geologis Indonesia terletak di antara pertemuan tiga lempeng tektonik dan jalur gunung api lingkar Pasifik dan lintas Asia. Selain itu, banyak dijumpai daerah patahan aktif yang merupakan daerah hancur.
"Di Indonesia, terdapat 129 gunung api aktif atau 17% dari gunung api aktif di dunia. Dengan demikian, Indonesia dapat dikatakan sebagai kawasan berzona patahan dan bergunung api aktif," katanya.
Ditambahkannya, berawal dari kejadian bencana alam letusan gunung api berturut-turut, yaitu Gunung Agung di Bali pada 1963, Gunung Kelud di Kediri, Jatim (1969), dan Gunung Merapi di Jateng (1969) yang mengakibatkan banyak korban jiwa.
Pengertian harfiah kata "Sabo" berasal dari bahasa Jepang. Yaitu asal kata "sa" berarti pasir, dan "bo" yang artinya pengendalian. Pengertian secara luas, sabo adalah sistem pengendalian erosi, sedimen, lahar hujan, dan penanggulangan tanah longsor.
Fungsi Sabo antara lain, menangkap aliran debris atau lahar sehingga debit aliran menjadi berkurang.
Selain itu, mengarahkan dan memperlambat kecepatan aliran, tempat pengendapan, pengarah aliran untuk mencegah penyebaran, dan membatasi terjadinya aliran debris atau lahar.
Ada berbagai fasilitas bangunan Sabo yang dapat diterapkan untuk pengendalian sedimen. Yaitu, mulai sumber sedimen (hulu), pengaliran (tengah), sampai pengendapan (hilir) yakni Sabo dam, tanggul, kantong pasir, saluran pengatur kanal, tanggul terbuka, dan perlindungan tebing.
Nidhom Azhari berpendapat, sabo bukan hanya digunakan untuk penanggulangan akibat gunung berapi.
Namun juga digunakan sebagai bangunan di sekitar sungai dan pantai untuk menahan longsoran.
Langganan:
Komentar (Atom)

