KATA "Sabo" bagi sebagian masyarakat, mungkin masih asing. Padahal, Sabo merupakan sebuah teknologi bangunan yang sangat berguna dan terkait erat dengan masalah konservasi sumber daya air akibat dari bencana alam sedimen yang sudah diterapkan lama.Berkaitan itu, Universitas Semarang (USM) bekerja sama dengan Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SKNVT) Penanganan Sabo Yogyakarta dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (PSDA), mengadakan seminar Deseminasi Teknologi Sabo, di Kampus II USM Jl Soekarno-Hatta, Rabu (31/5).
Pembicara utama seminar itu, Kepala Dinas PSDA Jateng Ir Nidhom Azhari Dipl HE, Yayasan Air Adhi Eka, Ir Djoko Legowo Dipl HE, dan Sabo Technical Centre Yogyakarta, Hariyono Utomo ST. Sebagai pembicara kunci Dirjen SDA, Ir Siswoko Dipl HE.
Hariyono mengungkapkan, Indonesia merupakan negara rawan bencana. Hal itu karena posisi geografis negeri ini terletak di antara dua benua Asia dan Australia serta di antara Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik.
Selain itu, secara geologis Indonesia terletak di antara pertemuan tiga lempeng tektonik dan jalur gunung api lingkar Pasifik dan lintas Asia. Selain itu, banyak dijumpai daerah patahan aktif yang merupakan daerah hancur.
"Di Indonesia, terdapat 129 gunung api aktif atau 17% dari gunung api aktif di dunia. Dengan demikian, Indonesia dapat dikatakan sebagai kawasan berzona patahan dan bergunung api aktif," katanya.
Ditambahkannya, berawal dari kejadian bencana alam letusan gunung api berturut-turut, yaitu Gunung Agung di Bali pada 1963, Gunung Kelud di Kediri, Jatim (1969), dan Gunung Merapi di Jateng (1969) yang mengakibatkan banyak korban jiwa.
Pengertian harfiah kata "Sabo" berasal dari bahasa Jepang. Yaitu asal kata "sa" berarti pasir, dan "bo" yang artinya pengendalian. Pengertian secara luas, sabo adalah sistem pengendalian erosi, sedimen, lahar hujan, dan penanggulangan tanah longsor.
Fungsi Sabo antara lain, menangkap aliran debris atau lahar sehingga debit aliran menjadi berkurang.
Selain itu, mengarahkan dan memperlambat kecepatan aliran, tempat pengendapan, pengarah aliran untuk mencegah penyebaran, dan membatasi terjadinya aliran debris atau lahar.
Ada berbagai fasilitas bangunan Sabo yang dapat diterapkan untuk pengendalian sedimen. Yaitu, mulai sumber sedimen (hulu), pengaliran (tengah), sampai pengendapan (hilir) yakni Sabo dam, tanggul, kantong pasir, saluran pengatur kanal, tanggul terbuka, dan perlindungan tebing.
Nidhom Azhari berpendapat, sabo bukan hanya digunakan untuk penanggulangan akibat gunung berapi.
Namun juga digunakan sebagai bangunan di sekitar sungai dan pantai untuk menahan longsoran.
Minggu, 31 Oktober 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar