Pages

Minggu, 31 Oktober 2010

TEKNOSABO

Pengertian Sabo ( bahasa Jepang)
Sa = pasir ( sand )
bo = pengendalian ( prevenyion )
Teknosabo + Teknik untuk mengendalikan gerakan masa debris agar tidak membahayakan


Teknologi Sabo dimaksudkan untuk mengendalikan masa debris yang membahayakan guna menciptakan rasa aman terhadap jiwa manusia, harta benda dan infrastruktu lain, mengurangi sedimen yang masuk kedalam suatu waduk, melindungi bangunan irigasi dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain, sebagai bangunan multiguna.

Teknologi Sabo dirintis sejak jaman Belanda dengan membuat bangunan Sabo berupa kantong lahar di K.Woro (Woro Driehoek ) sekitar tahun 1930 an akibat letusan besar gunung Merapi pada tahun 1931. Pada awal perkembangannya, dibuat tanggul didaerah hilir guna melindungi jiwa penduduk dan hatanya dari dari bencana lahar hujan. Pada saat itu masih belum terpikirkan pengendalian sedimen di daerah hilir, material sedimen hasil erosi di hulu seluruhnya nyaris terakumulasi di hilir.

Hampir setiap tahun, dasar sungai terus-menerus naik, yang diikuti pula dengan peninggian tanggul guna mencegah limpasan. Dasar sungai menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan tanah disekitarnya (ceiling river). Apabila terjadi kegagakan tanggul, muka air berikut sedimen yang terakumulasi dengan segera mengalir dan menimbun daerah yang lebih rendah disekitarnya. Berturut-turut Indonesia mengalami bencana letusan gunungapi yang terjadi di G.Agung Bali pada tahun 1963, G,Kelut Kediri (1966), G,Merapi Yogyakarta (1969), G.Semeru Lomajang (1977) dan H.Galunggung Tasikmalaya (1982) dan lain-lain. Letusan gunungapi tersebut mengakibatkan ratusan penduduk meninggal, sawah desa, bangunan sarana dan prasarana rusak berat.

Pada tahun 1970 pemerintah Indonesia menjalin kerjasama dengan pemerintah Jepang dalam upaya menanggulangi bencana alam akibat gunungapi.Sejak saat itu dimulailah pembangunan fasilitar Sabo dibagian hulu sungai dengan tujuan utama mengendalikan sedimen yang mengalir ke daerah hilir. Hasil dari kerjasama tersebut diantaranya : kedatangan berbagai tenaga ahli Jepang ke Indonesia, bantuan peralatan, pendidikan tenaga ahli Indonesia ke Jepang, penyelenggaraan pendidikan teknisi di Indonesia. Selain itu telah dibangun berbagai fasilitas Sabo yang tersebar di kawasan gunungapi di Indonesia terutama di pulau Jawa. Hingga saat ini kerjasama tersebut masih tetap terselenggara mengingat pengembangan teknologi Sabo senantiasa diperlukan guna meminimalkan kerugian yang timbul akibat bencana aliran sedimen.

Tidak ada komentar: